Kamis, 27 Agustus 2015

Diary Persiapan

Mendapat status sebagai seorang mahasiswa bukan lah suatu hal yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan.Begitu banyak hal, peristiwa dan jalan yang wajib di tempuh demi untuk dapat merealisasikan hal tersebut.
OSPEK sebentar lagi di gelar, ibarat air mengalir yang di tampung di dalam sebuah wadah yang besar, sedikit demi sedikit tugas baik itu tugas individu maupun tugas kelompok mulai membanjiri fikiran para mahasiswa baru. Ibarat kata seperti tak ada hari tenang, tak ada waktu yang bisa di gunakan hanya untuk sekedar santai, main main, atau mungkin hanya untuk sekedar leha leha selama masa tersebut belum berakhir.
Kadang kala aku merasa sangat lelah akan tugas – tugas yang diberikan dan tidak ingin mengerjakanya. Sempat terlintas difikiranku kalau aku tidak ingin mengikuti OSPEK ini, namun berkat dukungan dari teman teman kelompoku aku kembali bersemangat dan mengerjakan tugas – tugas OSPEK bersama.
Suatu hal, suatu peristiwa, suatu kejadian, apapun itu pastilah mengandung suatu hikmah dan manfaat yang tersembunyi di balik semua kegiatan itu. Tak terkecuali acara OSPEK ini. Kemarin ketika acara Technical Meeting (TM) sudah di kasih tahu sama kakak kakak pendamping dari pihak penyelenggara bahwa semua tugas yang di berikan kepada para mehasiswa baru bukanlah untuk menyulitkan atau bahkan memberatkan para mahasiwa baru. Tetapi di balik itu semua, tujuan utama dari semua tugas yang telah di berikan hanyalah untuk melatih jiwa jiwa para kader muda, jiwa jiwa para mahasiswa baru agar mempunyai suatu sikap yang pantang menyerah, mampu menghadapi semua tantangan dan tidak mudah putus asa atas semua hal baru yang mereka hadapi.
Bertemu dan berkenalan dengan teman teman baru, memecahkan dan mengerjakan banyak tugas bersama mereka, saling bertanya dan bertukar informasi bersama sama mengajarkanku banyak hal yang mungkin sulit dan tak akan pernah aku lupakan.
Oke, Bismillah...semoga semuanya lancar dan di berikan yang terbaik  untuk hari hari  ke depannya dan bias mengikuti semua kegiatan OSPEK ini.

Autobiografi

Nama saya  Muhamad Arifin, Saya lahir di Indramayu, 02 Mei 1997, Saya anak Pertama dari dua bersaudara, Ayah saya Muhamad Amin dan Ibu saya Rodiyana. Ayah saya adalah seorang wirausahawanl dan Ibu saya seorang Pedagang. Adik Saya perempuan yang bernama Amaliah Bhakti, yang sekarang duduk di kelas 2 SMP.
Pada saat umur 4 tahu saya mulai karir pendidikan di jenjang TK Ciung Wanara II, pada saat umur 6 tahun Saya memulai pendidikan D di SD Negeri Karangasem I, yang berada didesa Karangasem Kecamatan Terisi, dan disini yang menjadi salah satu guru saya adalah paman saya setelah Saya selesai pada tahun ajaran 2009/2010 jenjang SD dan mendapatkan ijazah. Saya melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu di SMP, Saat SMP Saya bersekolah di SMP  Negeri 1 Terisi, yang berada didesa Panti, tepatya berjarak ± 10 Km dari Kemiri di mana SD saya berada. Di SMP saya menimba ilmu selama 3 tahun lamanya, Setelah 3 tahun  tepatnya pada tahun ajaran 2012/2013 saya menyelesaikan pendidikan di SMP dan saya mendapatkan ijazah SMP. kemudian di lanjutkan kejenjang berikutnya yaitu di SMA Negeri 1 Sindang, yang berada di Indramayu,Jawa Barat, disitulah Saya mengenakan seragam putih abu-abu dan menuntut ilmu selama 3 tahun, di SMA favorite se-Indramayu ini Saya dibentuk menjadi seorang siswa didik yang diharapkan mampu menjadi seorang pelajar yang tangguh dan memiliki tanggung jawab tinggi yang dapat menjadi bekal bagi saya nantinya. Dan di sini juga saya belajar semua yang ada seperti Belajar Bahasa Jepang dan Inggris bahkan bahasa inggris di wajibkan pada hari jum’at dan sabtu, banyak perubahan sikap yang saya rasakan selama belajar di SMA Negeri 1 Sindang dan mental menjadi lebih luar biasa dan tentunya semakin dewasa.

Setelah saya menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Sindang pada tahun ajaran 2015/2016, setelah 3 tahun belajar saya mendapatkan ijazah, dan Saya memutuskan untuk mentransfer nilai guna  melanjutkan di perguruan tinggi di luar dan di Universitas Negeri Jenderal Soedirman lah yang menjadi pilihan saya. Dari sini saya telah memilih Jurusan Kesehatan Masyarakat dan target saya akan lulus tahun 2019.

Selasa, 25 Agustus 2015

Masalah Pelayanan Kesehatan

BPJS, Pemecah masalah atau solusi?


                        Sebagai negara yang berkembang, Indonesia memiliki banyak masalah di bidang kesehatan termasuk dalam pelayanan kesehatan. Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menikmati fasilitas kesehatan di negara ini. Baik penduduk yang tinggal di daerah perkotaan maupun yang tinggal di daerah pedesaan. Masih kurangnya tenaga medis (dokter, dokter gigi, bidan, perawat, tenaga kesehatan masyarakat) pun masih jauh dari kata memadai. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, yang tempat tinggalnya jauh dari pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Maka dari itu kita juga perlu meningkatkan pengetahuan masyarakat pedesaan tentang dunia medis. Akhir-akhir ini kita pasti sudah pernah mendengar yang namanya BPJS (Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial). Masih banyak pro dan kontra tentang asuransi ini. BPJS juga menjadi harapan utama pemerintah dalam dalam menjamin kesehatan untuk setiap warganya, pelaksanaan program BPJS sampai saat ini masih banyak menuai respon positif maupun negatif dari masyarakat. Jika dibandingkan dengan respon positif, respon negatif masyarakat terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional ini lebih banyak terasa. Bukannya kenyamanan dan kelancaran fasilitas kesehatan yang dirasakan tetapi kerumitan sistem dan kesulitan masyarakat saat mengajukna pelayanan kesehatan menjadi salah satu alasan utama. Contohnya adalah ketika saya ingin berobat ke rumah sakit memakai BPJS, namun dalam sehari BPJS hanya melayani satu pelayanan kesehatan saja. Seperti pemeriksaan laboratorium (cek darah). Pelayanan BPJS kurang fleksibel karena harus mengikuti jadwal yang sudah ditentukan. Pelayanan kepada pasien BPJS selalu dinomorduakan dibandingkan dengan pasien yang menggunakan biaya pribadi. Hal tersebut mengakibatkan pelayanan kepada masyarakat yang menggunakan BPJS tidak maksimal dan hal ini berimbas kepada masyarakat yang kurang mampu. Pemberian obat-obatan terhadap pasien yang menggunakan BPJS tidak dibiayai seluruhnya oleh pemerintah karena ada beberapa obat-obatan yang tidak diganggung oleh BPJS seperti obat bagi penderita hemofilia A dan obat untuk penanganan kemoterapi. BPJS juga harus lebih berpihak pada rakyat yang kurang mampu dan menggunakan sistem subsidi silang untuk menutupi biaya kesehatan tersebut. BPJS dalam hal ini perlu melakukan perbaikan sistem yang baik untuk mengurangi kasus-kasus yang timbul akibat dampak sistem pelayanan kesehatan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya  karena selama sistem belum diperbaiki, kritikan masyarakat terhadap BPJS akan terus bermunculan.